Pages

Tuesday, November 12, 2019

PEMBENIHAN IKAN MAS KOKI

PEMBENIHAN IKAN MAS KOKI
Oleh: Aldino Gibran Lubis, S.Pi
Bisnis ikan hias memang mampu memberikan jaminan keuntungan yang lebih dari cukup bagi petani pengelolanya. Selain harganya yang relatif tinggi siklus pemijahannyapun relatif lebih pendek. Hal ini tidak terlepas dari pengelolaan dan penanganan yang baik pula.
Saat ini, ekspor ikan hias dari tahun ketahun mengalami kenaikan yang signifikan. Apabila dilihat dari volume ekspor pada tahun 1998 yang hanya berjumlah 192 ton dan pada tahun 2002 berjumlah 3.513 ton yang berarti kenaikan pertahun rata-rata sekitar 343,6 % (Dirjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan 2003).
          Meningkatnya pemasaran komoditas ikan hias tidak lain karena banyak yang menggemari usaha memelihara ikan hias di akuarium untuk menghiasi ruangan rumah. Melalui jenis, warna, ukuran dan bentuk tubuhnya, ikan hias ini memegang peranan yang penting untuk menambah kesejukan, keindahan, dan kesegaran lingkungan.
          Banyak masyarakat beranggapan bahwa memelihara ikan hias sangat baik bagi kesehatan. Sebagian besar mereka beranggapan bahwa bentuk, warna, sifat, dan gerak-gerik tubuh ikan hias ketika berenang dikolam atau dalam akuarium yang didekorasi dengan apik dapat menentramkan hati, menyembuhkan tekanan darah tinggi maupun stress yang disebabkan karena berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi
Sistematika ikan maskoki adalah :
Kelas              : Pisces
Sub Kelas        : Teleostei
Ordo              : Ostariophysi
Sub ordo        : Cyprinoidea
Famili             : Cyprinidae
Genus             : Carassius
Spesies           : Carassius auratus
Morfologi Ikan Maskoki
Bentuk luar (morfologi) maskoki memiliki tubuh gendut, punggung agak bongkok, sirip yang lengkap seperti sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip ekor. Bentuk badan maskoki biasanya pendek dan gempal yang menjadi salah satu ciri khas tersendiri. 
Habitat dan Kebiasaan Hidup
Maskoki merupakan salah satu jenis ikan hias yang hidup di daerah air tawar. Meskipun cenderung hidup diair tawar yang bersuhu  hangat maskoki dapat hidup diperairan dengan suhu yang berkisar antara 12-20 °C.
Di daerah yang mempunyai 4 musim (musim semi, panas, gugur dan dingin), maskoki melakukan aktifitasnya pada musim semi, yaitu ketika suhu lingkungan mencapai sekitar 12 – 20ºC. sedangkan di daerah tropis, maskoki lebih produktif karena suhu lingkungannya lebih hangat yaitu sekitar 25 – 29ºC, sehingga mampu memijah sepanjang tahun.
Persiapan Bak Pemijahan
Untuk pemijahan maskoki dapat digunakan bak semen atau akuarium. Jika menggunakan bak semen dapat digunakan bak berukuran 100 x 100 x 30 cm, dan jika menggunakan akuarium dapat menggunakan akuarium berukuran 100 x 75 x 50 cm.
Karena ikan maskoki mempunyai sifat yang menempelkan telurnya pada substrat, maka didalam tempat pemijahan harus diletakan substrat untuk menempelkan telurnya. Substrat ini dapat berupa tanaman air seperti eceng gondok, atau bias pula menggunakan kakaban.
Air yang digunakan dalam pemijahan maskoki pada dasrnya sama dengan sumber air bagi jenis ikan hias yang lain. Yang terpenting adalah ikan maskoki menyukai air yang jernih. Sumber airnya bias menggunakan air PAM atau air sumur yang telah diendapkan selama 24 jam.
Pemilihan Induk
      Keberhasilan kegiatan pemijahan tergantung dari kesiapan kematangan induk yang dipijahkan. Untuk memenuhi keadaan tersebut maka seorang pembenih harus mengetahui syarat-syarat calon induk yang layak untuk dipilih menjadi calon induk dan induk. Dibawah ini adalah ciri-ciri calon induk maskoki yang siap dijadikan induk:
1. Umur calon induk minimal 7 bulan, tetapi yang lebih baik berumur 2 tahun.
2. Sehat dan tidak mengalami stress.
3. Tubuhnya tidak ada luka.
4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit.
5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.
Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina :
Induk Jantan
v  Pada sirip dada terdapat bintik- bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
v  Induk yang telah matang jika diurut pelan ke arah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.
Induk Betina
v  Pada sirip dada tidak terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba
v  Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah
matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerah-merahan.
Perawatan Induk
Induk yang terpilih dipelihara secara terpisah dari maskoki lain yang belum dewasa. Hal ini bertujuan agar memudahkan dalam perawatan
Pembenih akan gampang dalam menyeleksi induk yang sudah matang telur dan belum.
      Penempatan induk maskoki dalam bak induk harus cukup mendapat sinar matahari. Tiap bak dilengkapi dengan aerator, kalau perlu dapat dipasang pemanas (Water Heater Thermostat) agar suhu air bak dapat dikendalikan dengan stabiL.
Pemijahan Maskoki
Maskoki menghendaki suasana yang agak gelap dan suhu air dingin. Suhu air yang dikehendaki oleh mas koki dalam melakukan pemijahan berkisar antara 20 - 25ºC. Agar pemijahan sempurna, pasangan maskoki dimasukkan ke dalam wadah pemijahan 2 ekor induk betina dapat dipasangkan dengan 3 ekor jantan unggul yang ukurannya sama. Ikan maskoki akan memijah menjelang subuh, induk jantan akan mencumbu induk betina dengan berenang berputar-putar mengelilingi induk betina. Karena ulah jantan induk betina akan meloncat sambil mengeluarkan telur dan saat itulah ketiga jantan menyusul dengan menyemprotkan spermanya untuk membuahi telur yang dikeluarkan induk betina.
Penetasan Telur
      Dari hasil pemijahan akan tampak ribuan telur yang dibuahi menempel pada substrat yang disediakan, seperti kakaban. Garis tengah telur antara 0,7 - 1,5 mm. Seekor  induk betina maskoki dapat menghasilkan telur 5000 telur dengan rasio penetasan 70-80 % sekali memijah. Telur akan menetas setelah 2 - 3 hari dari pembuahan pada suhu air 25-29º C.
Pemeliharaan Benih
Setelah 2 - 3 hari telur akan menetas, sampai berumur 2 - 3 hari benih belum diberi makan, karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).
Pada hari ke 3 - 4 benih sudah dapat diberi makanan kutu air yang telah disaring dengan cara mengkultur-nya.
Setelah berumur ± 15 hari benih mulai dicoba diberi cacing rambut disamping masih diberi kutu air, sampai benih keseluruhannya mampu memakan cacing rambut baru pemberian kutu air dihentikan.
Ketinggian air dalam bak 10 - 15 cm dengan pergantian air 5 - 7 hari sekali. Setiap pergantian air gunakan air yang telah diendapkan lebih dahulu. Untuk menghindari sinar matahari yang terlalu terik diperlukan beberapa tanaman pelindung berupa eceng gondok.
Panen dan seleksi dilakukan setelah mencapai umur 1 bulan dari usia pemeliharaan benih pada pendederan. Tujuan dari seleksi adalah untuk mendapatkan benih yang berkualitas dari berbagai segi, baik dari segi ukuran, warna tubuh, jambul, ekor, bentuk tubuh dan lain-lain. Hal yang menarik dari ikan hias adalah penampakan tubuh dari ikan yang dilihat, oleh karena itu seleksi merupakan cara untuk memilih ikan yang berkualitas dan berkelas sehingga harga jual akan tinggi.

Tuesday, October 29, 2019

PENGENALAN, PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT

PENGENALAN, PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT

Oleh: Aldino Gibran Lubis, S.Pi

 

 

 

Hama dan penyakit ikan merupakan salah satu masalah yang sangat serius dalam usaha budidaya ikan. Dengan semakin berkembangnya teknologi budidaya maka luas areal semakin sempit, padat penebaran semakin tinggi, serta pemberian pakan buatan semakin ditingkatkan. Sementara air yang digunakan, secara bertahap, mengalami pengotoran oleh bahan organik maupun cemaran limbah inustri. Keadaan seperti ini membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya wabah dan parasit ikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kini masalah hama dan penyakit ikan seolah – olah menjadi momok yang sangat menakutkan karena bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Berikut penyakit yang sering menyerang dan bagaimana cara penanggulangan dan pencegahan penyakit pada ikan mas.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA PENYAKIT
 
Terdapat banyak faktor yang menentukan seekor ikan menjadi sakit. Faktor utamanya adalah Host (organisme peliharaan/inang), Pathogen (microba, parasit) dan Environment (lingkungan menyangkut fisik, kimia atau tingkah laku seperti stress). Sehingga dapat dikatakan bahwa penyakit merupakan ekspresi dari kompleks interaksi antara host-pathogen-environment. Hal di atas digambarkan oleh Snieszko dalam Zonneveld (1994) melalui 3 lingkaran yang saling overlapping untuk memperlihatkan interaksi antara host, potential pathogen dan environment (lingkungan).
PENYAKIT NON PARASITER

Penyakit non parasiter yaitu penyakit yang disebabkan bukan oleh hama maupun organisme parasit. Penyakit ini dapat dikelompokkan berdasarkan faktor penyebabnya yaitu lingkungan (dalam hal ini air sebagai media hidup) dan pakan.

a. Lingkungan/Kualitas Air
Perlu diingat bahwa kualitas air memegang peranan penting dalam kegiatan budidaya khususnya dan perikanan pada umumnya. Pada peranan alami kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dsb) (Zonneveld,dkk.,1994).
Beberapa kondisi lingkungan yang menyebabkan kematian ikan adalah :
-    Perubahan suhu air secara mendadak
-    pH air yang terlalu rendah atau sangat tinggi
-    Kurangnya oksigen terlarut dalam air.
-  Meningkatnya senyawa-senyawa beracun seperti H2S (gas metan), karbondioksida, ammoniak, adanya polusi pestisida, limbah industri dan rumah tangga.
-    Kekeruhan air meningkat/ kecerahan air menurun (Djarijah, 1995).
Deplesi/kekurangan oksigen merupakan salah satu faktor lingkungan yang sering menyebabkan kematian ikan terutama di kolam yang banyak mengandung bahan organik. Secara tidak langsung kekurangan oksigen menyebabkan ikan stress sehingga daya tahan tubuh menurun yang berakibat ikan tersebut mudah diserang organisme pathogen. Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi oksigen dalam kolam adalah fotosintesis, respirasi dan difusi oksigen dari udara ke dalam air. Suhu juga memegang peranan penting dalam ketersediaan oksigen dalam air. Dimana peningkatan suhu air akan menurunkan kemampuan air untuk mengikat oksigen (Afrianto dan Liviawaty, 1992).
Variasi suhu air lebih kecil dan lebih lambat terjadinya bila dibandingkan dengan variasi suhu udara. Hal ini menyebabkan organisme akuatik seringkali kurang dapat mentoleransi perubahan-perubahan suhu (Stenothermal). Akibatnya pencemaran termal yang ringanpun akan dapat berakibat luas. Pertumbuhan embrio ikan mas pada suhu 30 0C mengalami penurunan setengah kali dibanding pada suhu 20 0C (Tamanampo, 1994). Selanjutnya dikemukakan bahwa nafsu makan ikan mas nyata menurun apabila suhu air meningkat. Dari pengamatan di lapangan ditemukan bahwa ikan mas yang dipijahkan di kolam secara alami, baru memijah setelah suhu airnya berkisar 20 – 22 0C (Wardoyo dalamTamanampo, 1994). EIFAC dalam Tamanampo (1994) mengemukakan bahwa ikan mas yang dipelihara pada suhu 24 – 26 0C akan segera mati bila dipindahkan ke dalam perairan bersuhu 38,2 0C secara tiba-tiba tanpa aklimatisasi. Dan kalaupun dapat hidup setelah diaklimatisasi, ikan tersebut akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya dan daya makannya. Selanjutnya Klein dalam Tamanampo (1994) menyatakan bahwa daya racun Potasium Sianida terhadap ikan air tawar adalah dua kali lipat apabila suhu airnya meningkat 10 0C.

b.  Pakan
Selain itu, baik buruknya kondisi tubuh ikan juga sangat dipengaruhi oleh faktor pakan yang diberikan. Pakan harus memenuhi kebutuhan ikan dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan tersebut.

PENYAKIT PARASITER
Penyakit-penyakit parasiter yang menyerang ikan mas umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa dan cacing.

a. Virus Penyebab Penyakit
Ephithelioma papulasum merupakan virus yang sering menyerang ikan mas (C. carpio), ikan mas koki (Carassius auratus) dan beberapa jenis ikan hias air tawar. Serangan virus ini mengakibatkan penyakit cacar, dimana pada tubuh ikan timbul bercak-bercak putih seperti susu yang perlahan-lahan membentuk lapisan lebar mirip kaca atau lemak dengan ketebalan antara 1 - 2 mm (Afrianto dan Liviawaty, 1992).
Aktivitas serangan virus bersifat akut (mematikan), menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering dilanjutkan dengan infeksi sekunder oleh bakteri ataupun didahului oleh infeksi sekunder oleh organisme parasit misalnya Argulus (kutu ikan), Lernea dan lain-lain.

b. Bakteri Penyebab Penyakit
Berdasarkan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan warna gram, maka bakteri dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu bakteri gram positif (terlihat berwarna biru) dan bakteri gram negatif (berwarna pink atau merah). Kebanyakan bakteri pathogen ikan termasuk golongan gram negatif, seperti Aeromonas sp., Pseudomonas sp., Flexibacter sp. dan Vibrio sp. Diman bakteri-bakteri ini hampir selalu ditemukan dan hidup di air kolam, di permukaan tubuh ikan dan pada organ-organ tubuh bagian dalam ikan. Umumnya ikan mas sering terserang bakteri Aeromonas hydrophilla, A.salmonicida, dan Pseudomonas flourescens.

c. Jamur Penyebab Penyakit
Jamur adalah mikroorganisme yang sering terlihat seperti benang yang tumbuh di bagian dalam atau luar tubuh ikan. Ada beberapa organisme jamur yang sering menimbulkan penyakit pada ikan mas, yaitu Saprolegnea sp. yang menyebabkan penyakit Saprolegniasis, Achlya sp., Branchiomyces sp. Tetapi yang paling akut dan ditakuti adalah Saprolegnea sp. dan Branchiomyces sp, sebab Saprolegnea sp. selain menyerang organisme dewasa juga menyerang telur-telur ikan. Sedangkan Branchiomyces sp. dapat menyebabkan kematian masal pada ikan budidaya.
Jamur Saprolegnea sp. menyerang ikan disebabkan adanya infeksi sekunder oleh organisme lain misalnya bakteri atau copepoda. Selain adanya luka juga juga dikarenakan suhu air menurun sehingga ikan stress. Pada ikan yang terinfeksi akan terlihat adanya sekumpulan hypa (benang-benang halus menyerupai kapas). Biasanya hypa ditemukan di bagian kepala, tutup insang dan sekitar sirip. Ikan-ikan ini biasanya menjadi kurus karena daya makan menurun dan sering menggosok-gosokan tubuhnya pada benda-benda lain.

d. Protozoa Penyebab Penyakit
Protozoa yang sering menyerang ikan mas adalah Icthyopthirius multifilis, Myxobulus sp., Tricodina sp. (Afrianto dan Liviawaty, 1992; Djarijah, 1995). Akibat serangan I. multifilis pada tubuh ikan banyak dijumpai bintik-bintik putih sehingga penyakit ini disebut White spot. Serangan protozoa ini umumnya terjadi pada musim hujan dengan suhu berkisar 20 – 24 0C. Ikan yang terserang akan kehilangan fungsi insang sehingga mengganggu respirasi. Selain itu ikan menjadi malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air.

e. Cacing Penyebab Penyakit
            Ada dua jenis cacing Kelas Trematoda yang kerap kali menyerang ikan mas serta ikan-ikan air tawar pada umumnya, yaitu Gyrodactylus sp. dan Dactylogyrus sp. Gyrodactylus sp. biasanya menyerang ikan pada bagian kulit dan sirip sedang Dactylogyrus sp. lebih suka menyerang insang. Cacing-cacing parasit ini akan menyerang ikan pada tingkat pemeliharaan yang cukup padat.


Saprolegnia
Saprolegnia atau dikenal juga sebagai "water molds" dapat menyerang ikan dan juga telur ikan.  Mereka umum dijumpai pada air tawar maupun air payau.  Jamur ini dapat  tumbuh pada selang suhu 0 - 35 °C, dengan selang pertumbuhan optimal 15 - 30 °C.  Pada umumnya,  Saprolegnia akan menyerang bagian tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan sehat lainnya.  Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang buruk, seperti sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah, atau kadar amonia tinggi, dan kadar bahan organik tinggi.  Kehadiran Saproglegnia sering pulang disertai dengan kahadiran infeksi bakteri Columnaris, atau parasit eksernal lainnya. 


Tanda-tanda penyakit
Kehadiran Saprolegnia biasanya ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas, berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan.  Apabila anda sempat melihatnya di bawah mikroskop maka akan tampak jamur  ini seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang.

Pencegahan dan Perawatan 
Serangan Saprolegnia dapat dihindari dengan melakukan perawatan yang baik terhadap kondisi akuarium, terutama dengan  menjaga kualitas air selalu dalam kondisi optimal, hindari pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi untuk mencegah terjadinya luka, dan selalu menjaga ikan agar mendapat gizi yang memadai.  Apabila gejala serangan Saprolegnia ditemukan, segera lakukan evaluasi kualitas air akuarium anda dan lakukan koreksi yang diperlukan. Apabila kondisi serangan pada ikan parah, lakukan pengobatan. Selain dengan fungisida khusus ikan, perlakuan dengan PK, formalin dan povidone iodine dapat pula mengobati serangan Saprolegnia.
 
Branchiomycosis 
Branchiomyces demigrans atau  "Gill Rot (busuk insang)"  disebabkan oleh jamur Branchiomyces sanguinis and Branchiomyces demigrans . Spesies jamur ini biasanya dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8 -6.5), kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam akuarium,  Branchiomyces sp.tumbuh pada temperatur 14 - 35°C , pertumbuhan optimal biasanya terjadi pada selang suhu 25 - 31°C.  Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar akuarium.
 
Tanda-tanda Penyakit 
Branchiomyces sanguinis  dan  B. demigrans pada umumnya menyerang insang ikan. Ikan yang terjangkit akan menunjukkan gejala bernafas dengan tersengal-sengal dipermukaan air dan malas.  Insang tampak mengeras dan berwarna pucat, khususnya pada daerah yang terjangkit. Pengamatan dibawah mikroskop akan sangat membantu mengenali serangan jamur ini.   Apabila bagian jaringan yang terserang mati dan lepas, maka spora jamur akan ikut terbebas dan masuk kedalam air sehingga akan memungkinkan untuk  menyerang ikan lainnya.

Pencegahan dan Perawatan 
Usaha pencegahan merupakan cara yang sangat disarankan untuk mengontrol serangan jamur ini.  Pengelolaan lingkungan akuarium yang baik akan menciptakan kondisi yang tidak disukai oleh jamur tersebut untuk tumbuh. Apabila penyakit telah terlanjur berjangkit, segera lakukan isolasi. Formalin dan Copper Sulfat diketahui dapat mencegah kematian akibat infekasi Branchiomycosis.  Akuarium yang terjangkit hendaknya segera dikuras, dan dikeringkan serta lakukakan tindakan sterilisasi.  Apabila hal ini menyerang ikan dalam  kolam, keringkan kolam dan berikan perlakuan dengan kalsium oksida.
 
Icthyophonus 
Icthyophonus disebabkan oleh jamur  Icthyophonus hoferi . Jamur ini tumbuh baik pada air tawar maupun air asin (laut).  Meskipun demikian,  biasanya serangan jamur ini hanya akan terjadi pada air dingin 2 -  20° C.  Penyebaran Icthyophonus berlangsung melalu kista yang terbawa kotoran ikan atau akibat kanibalisme terhadap ikan yang terjangkit. 

Tanda-tanda penyakit
Sebaran penyakit biasanya berlangsung melalui pencernaan, yaitu melalui spora yang termakan.  Oleh karena itu,  ikan yang terserang ringan sampai sedang biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit.  Pada kasus serangan berat, kulit ikan tampak berubah kasar seperti amplas.  Hal ini disebabkan terjadinya infeksi dibagian bawah kulit dan jaringan otot.  Ikan dapat pula menunjukkan gejala  pembengkokan tulang.  Bagian dalam ikan akan pada umumnya  tampak membengkak disertai dengan luka-luka  berwarna kelabu-putih. 

Pencegahan dan Perawatan
Tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan terhadap penyakit ini, ikan biasanya akan menjadi carrier sepanjang hidupnya. Pencegahan adalah satu-satunya cara untuk menghindari serangan penyakit Icthyophonus.  Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak memberikan ikan mentah atau produk ikan mentah pada ikan, kecuali diyakini bahwa pakan ini terbebas dari Icthyophonus hoferi.  Memasak terlebih dahulu pakan tersebuti dapat membantu menghilangkan jamur infektif yang terkandung.  Apabila Icthyophonus ditemukan pada ikan anda, maka disarankan untuk segera memusnahkan ikan tersebut.  Selanjutnya lakukan sterilisasi pada akuarium yang bersangkutan, termasuk filter dan peralatan lainnya.  Apabila hal ini menyerang  ikan dalam kolam, dan kolam memiliki dasar pasir atau lumpur maka akan diperlukan pengeringan kolam selama  berbulan-bulan untuk menghilangkan jamur tersebut.

Monday, October 14, 2019

PAKAN ALAMI PERTUMBUHAN BELUT

PAKAN ALAMI PERTUMBUHAN BELUT
oleh: Aldino Gibran Lubis, S.Pi





Pakan alami merupakan kebutuhan utama untuk perkembangan belut. Di antaranya, cacing, belatung, bekicot, dan kecebong. Semuanya bisa dibudidayakan sehingga bisa menekan biaya dan bisa diperoleh dalam jumlah besar.

Cacing tanah bisa dikembangbiakkan di dalam kotak kayu atau terpal berukuran 0.5 meter persegi. Masukkan media berupa kotoran sapi, sisa sayuran yang telah membusuk, tanah, dan serbuk gergaji. Masukkan bibit cacing, sekitar 1 ons. Dalam waktu 1—2 minggu, cacing sudah berkembang biak dalam jumlah banyak.

Belatung bisa dikembangbiakkan dengan menggunakan media campuran dedak halus, tepung ikan asin, cincangan eceng gondok, dan urea. Semua media dimasukkan ke dalam wadah berupa toples atau kaleng, diamkan selama tiga hari. Tutup wadah dengan kain basah. Satu hari kemudian, belatung akan bermunculan.

Keong mas bisa dibudidayakan di dalam kolam. Letakkan tanaman air di atasnya. Masukkan keong mas dewasa. Dalam beberapa waktu, keong mas sudah berkembang biak.

Adapun kecebong, bisa dibudidayakan dengan memasukkan beberapa pasang katak jantan dan betina ke dalam kolam budi daya belut. Mereka akan kawin dan bertelur. Telur yang menetas akan menjadi kecebong.

Budi daya pakan alami sebaiknya sudah dimulai 1—2 bulan sebelum budi daya belut dilakukan, kecuali kecebong. Tujuannya, agar terhindar dari kekurangan pakan. Banyaknya pakan yang dibudidayakan harus disetarakan dengan besarnya skala budi daya belut agar stok pakan alami dapat terus terjaga

Selain pakan alami, ada resep suplemen rahasia yang mampu mempercepat pertumbuhan belut hingga 10 kali lebih berat dari suplemen belut biasa. Resep ini telah dibuktikan oleh peternak belut sukses. Selain mempercepat pertumbuhan, suplemen ini  berfungsi meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit dan menambah nafsu makan. Jika biasanya belut dipanen dalam waktu 6 bulan, dengan memberikan suplemen ini, belut dapat dipanen lebih cepat 3 bulan dengan bobot yang sama memuaskan.

A.  Aplikasi Pakan Belut
Belut merupakan hewan karnivora yang membutuhkan pakan mengandung protein sekitar 65—70%. Namun, pakan yang dimaksud bukan apa yang diberikan sebagai rutinitas dengan memberikan pelet setiap hari, tapi harus diselingi dengan pemberian pakan hidup, misalnya aneka jenis ikan atau bekicot. Hal ini berguna untuk menghindari pengaruh produktivitas belut yang tidak maksimal akibat pemberian jenis pakan secara terus-menerus.

Di dalam media budi daya juga bisa diletakkan beberapa pakan hidup seperti kecebong, cacing, larva ikan, dan belatung. Selain itu, belut untuk kegiatan pembesaran juga dapat diberi pakan mati berupa cincangan bangkai ayam atau cincangan bekicot. Namun, pakan bangkai tersebut sebaiknya telah direbus sebelum diberikan agar belut terhindar dari penularan penyakit atau mikroorganisme yang menjangkit hewan tersebut.

Adapun jumlah pakan yang diperlukan untuk menambah berat badan belut disebut nilai ubah atau convertion rate (FCR) ialah sebagai berikut.
FCR = Jumlah pakan yang dimakan selama interval waktu tertentu
             Pertambahan berat badan selama interval waktu tersebut

Ini berarti, semakin kecil rasio konversi pakan, semakin cocok makanan tersebut untuk menunjang pertumbuhan belut. Sebaliknya, semakin besar rasio konversi pakan, kemungkinan besar pakan yang digunakan tidak efektif dalam memacu pertumbuhan belut.

Perbandingan antara 1 kg berat daging belut dengan jumlah berat pakan yang dibutuhkan disebut koefisien konversi berat. Jadi, untuk menambah berat 1 kg daging belut dibutuhkan 2 kg pakan, ini berarti koefisien konversi berat pakan adalah 0.5. Apabila koefisien konversi berat itu dikalikan dengan 100%, akan diperoleh efisiensi konversi berat.

B. Pakan Hidup yang Bisa Dibudidayakan

1. Cacing Sutra
    Cacing sutra (Tubifek sp.) umumnya berwarna merah darah dengan panjang 10-30 mm. Cacing ini biasa hidup di selokan atau saluran-saluran dangkal yang banyak mengandung zat organik. Mereka biasa hidup berkoloni atau bergerombol.

2. Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
Cacing tanah biasanya terdapat di tanah humus, tempat pembuangan sampah, atau tepian sungai yang bercampur dengan sisa sampah.

Cara membudidayakan cacing sebenarnya cukup mudah, cukup dengan menyiapkan kotoran sapi secukupnya, sisa sayuran atau sampah yang membusuk, tanah, dan serbuk gergaji. Semua bahan tersebut dicampur menjadi satu. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan disusul dengan memasukkan benih cacing. Dalam beberapa minggu, biasanya cacing sudah berkembang biak.

3. Bekicot
    Bekicot di alam sering menjadi musuh petani karena memakan tanaman padi atau sayuran. Padahal, daging bekicot sebenarnya dapat digunakan sebagai pakan belut karena mengandung protein yang cukup tinggi.

Untuk budi daya bekicot, buatlah wadah kandang berupa rumah-rumahan atau gedek dari bambu berukuran 1 x 1 cm dan tinggi 60--70 cm. Selanjutnya, masukkan limbah sayur-mayur, cincangan batang pisang, dan batang pepaya, diamkan selama 1 minggu. Setelah bahan-bahan tersebut membusuk, masukkan bibit bekicot sebanyak 20 indukan. Bekicot akan bertelur setelah satu bulan. Agar bekicot tetap hidup, jangan lupa memberikan cincangan batang pisang dan sayur mayur setiap hari.

4. Keong Mas
    Daging keong sawah dan keong mas sebenarnya bisa digunakan untuk pakan belut, asalkan jangan terbawa masuk dengan cangkangnya. Sebaiknya, daging keong mas dicincang terlebih dulu sebelum diberikan kepada belut. Keong sawah dan keong mas mudah ditemukan di sawah-sawah. Untuk kebutuhan yang lebih besar, Anda bisa dengan mudah membudidayakannya.

5. Kutu Air , 
Daphnia dan Moina termasuk kutu air dari jenis udang renik. Sering dijumpai di perairan yang mengandung banyak bahan organik. Selain hidup sebagai platonic, kutu air juga banyak menghuni tempat2 yang lembab seperti danau, waduk, kolam dan genangan air lainnya

Makanan utamanya adalah tumbuhan renik (fitoplankton), hewan renik(zooplankton), dan detritus.

6. Belatung
Belatung sebenarnya merupakan larva dari lalat. Untuk mencarinya memang tidak mudah, tetapi belatung bisa dihadirkan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan yang bisa mengundang lalat, misalnya ampas tahu, pupuk urea, dedak halus, cincangan eceng gondok, dan tepung ikan asin. Bahan-bahan tersebut dicampur menjadi satu dan diaduk rata. Setelah itu, diamkan selama beberapa hari di tempat yang agak terbuka, lalu tutup dengan kain yang basah. Beberapa hari kemudian belatung akan tumbuh subur di wadah tersebut.

7. Kecebong atau Berudu
Kecebong merupakan bahan pakan yang baik bagi belut. Kecebong dapat diperoleh dengan cara mengembangbiakkan katak. Caranya, masukkan beberapa pasang ekor katak jantan dan betina. Biarkan hingga katak hijau tersebut berkembang biak di kolam. Telur katak yang berhasil menetas akan menjadi kecebong, dan kecebong tersebut disukai belut.


Monday, September 30, 2019

PEMBENIHAN LOBSTER AIR TAWAR

PEMBENIHAN LOBSTER AIR TAWAR
Oleh: Aldino Gibran Lubis, S.Pi 


 
Lobster air tawar tidak hanya ikan konsumsi, tetapi bisa juga dijadikan ikan hiasan di dalam akuarium sebagai udang hias, lobster memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada ikan hias.  Selain bentuk tubuh yang unik, lobster air tawar yang memiliki warna khas dan beragam.
Lobster air tawar merupakan salah satu genus dari famili parastacidae yang mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan di Indonesia sejak tahun 2000.  Di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Kostarika, Ekuador, Fiji, Guatemala, Israel, Meksoko, Afrika Selatan, Dan Taiwan, budidaya lobster telah dilakukan sejak tahun 1980.  Di Indonesia, berbagai kajian ilmiah menunjukkan permintaan pasar terhadap lobster air tawar berkuran 5 – 10 cm relatif tinggi.
Secara fisik lobster air tawar memiliki warna dasar yang beragam atau fariatif.  Dari segi teknis, lobster air tawar dapat dipelihara di air tawar yang tidak selalu jernih dengan berbagai variasi wadah.  Jenis pakannya pun relatif banyak dan mudah diperoleh.  Hal yang menarik adalah lobster dikenal memiliki sifat pengembara yang tinggi, warna pada tubuh lobster berkilau, terutama jika terkena cahaya.
 
Klasifikasi Lobster
Lobster air tawar termasuk dalam kelas crustacea dengan ordo decapoda. Pada dasarnya terdapat famili atau kelaga besar lobster air tawar.  Berikut ini dipaparkan klasifikasi salah satu jenis lobster air tawar dari genus cherax.
Filum               :  Arthrapoda
Kelas                :  Crustacea
Sub kelas         :  Malacostraca
Ordo                :  Decapoda
Famili              :  Parastacidae
Genus              :  Cherax
Spesies            :  Cherax quadricarinatus
 
 
Habitat Dan Penyebarannya
Lobster air tawar yang berasal dari famili astacidae, combaridae, dan parastacidae menyebar di semua benua, kecuali Afrika dan Antartika.  Lobster air tawar astacidae dan cambaridae tersebar dibelahan dunia utara, sedangkan parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru, dan Papua Nugini.  Habitat alam lobster air tawar adalah dana, rawa, atau sungai yang berlokasi di daerah pegunungan.
 
Morfologi Pada Lobster
Tubuh lobster terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut kepala dan bagian belakang disebut badan.  Dilihat dari organ tubuh lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap :
·      Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan.
·      Sepasang antanela untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
·      Enam ruas badan agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala.
·      Ekor.  Satu ekor tengah memipih, sedikit lebar dan dilengkapi duri-duri halus, serta dua pasang ekor samping.
·      Enam pasang kaki renang
·      Empat pasang kaki jalan.
 
Jenis dan Pola Makan
Lobster air tawar biasanya aktif mencari makan pada malam hari.  Lobster air tawar termasuk pemakan segala.  Bahan-bahan makanan dari hewani dan nabati sangat disukainya.  Lobster menyukai cacing-cacingan dan pakan buatan.
Lobster termasuk jenis hewan yang tidak rakus.  Kebutuhan pakan lobster sebenarnya sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 2-3 gram per ekor lobster dewasa per hari.  Kebutuhan pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan, pergantian sel-sel yang sudah rusak, dan perkembangbiakan.
 
Pemilihan Calon Induk
Pemilihan induk sebaiknya dilakukan sejak lobster berumur 2-3 bulan.  Pada umur ini lobster mempunyai panjang tubuh 5-6 cm dengan ukuran tersebut berarti proses pertumbuhan lobster berjalan dengan baik.  Selain proses pertumbuhan, yang hars diperhatikan dalam memilih induk yang berkualitas adalah lobster harus memilki nafsu makan yang tinggi, gerakannya lincah, dan warna tubuhnya cerah.
 
Pemilihan Calon Induk
Calon induk yang sudah dipilih dipisahkan denagn lobster lain dengan memindahkannya ke wadah lain.  Pemindahan ini bertjuan untk emmpermudah pengontrolan.
Dalam pemeliharaan calon induk ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
·               Wadah pemeliharaan dan kepadatan tebar
·               Pengontrolan dan penyesuaian calon induk
·               Pemberian pakan
·               Pencegahan penyakit.
 
Kebiasaan Reproduksi
Perilaku lobster air tawar yang cukup menarik untuk diamati adalah aktifitasnya saat perkawinan hingga muncul juvenil.  Tahap awal yang dilaksanakan oleh setiap induk sebagai berikt :
·               Mencari pasangan
·               Melakukan percumbuan antar pasanagan
·               Melakukan perkawinan
·               Induk betina mengerami talur
·               Induk betina mengasuh benih hingga waktu tertentu.
 
Pemindahan Induk Yang Telah Bertelur
Induk betina yang telah mengeluarkan telur harus dipindahkan ke wadah lain agar telurnya menetas.  Pemindahan ini bertujuan untuk mencegah dimakannya telu-telur oleh induk jantan atau induk betina yang lain, karena pada dasarnya lobster air tawar adalah binatang yang memiliki sifat kanibal.
 
Penetasan Telur
Telur-telur yang dikeluarkan induk lobster akan menetas setelah sekitar 1 bulan.  Benih-benih akan lepas dari induknya setelah 4-5 hari sejak menetas.
 
Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah benih berumur 1-1,5 bulan.  Pemanenan dilakukan dengan cara menyipon air dan kemudian benih ditangkap dengan menggunakan scop net.